DaerahHeadlineLampung Tengah

Plt. Bupati Lamteng: Pesantren Adalah Kawah Candradimuka Pemimpin Bangsa Berakhlak

krynsi
495
×

Plt. Bupati Lamteng: Pesantren Adalah Kawah Candradimuka Pemimpin Bangsa Berakhlak

Sebarkan artikel ini

KARYA NASIONAL – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, S.E., M.Sos, menekankan pentingnya peran strategis pondok pesantren sebagai lembaga yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menjadi pusat penggodokan pemimpin masa depan. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri peringatan Haul Almagfurlah KH. Maulana Imam Syuhadak ke-17 dan Hari Lahir (Harlah) Pondok Pesantren Wali Songo ke-39 di Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Minggu (18/01/2026).

Dalam sambutannya di hadapan ratusan jamaah, Komang Koheri menyoroti bahwa tantangan bangsa ke depan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan integritas moral. Menurutnya, pesantren adalah institusi yang paling siap mencetak karakter tersebut.

“Pondok pesantren adalah kawah candradimuka bagi calon pemimpin bangsa. Di sini, santri tidak hanya dididik untuk pintar secara ilmu pengetahuan, tetapi yang paling utama adalah ditempa akhlak dan mentalitas pengabdiannya,” ujar Komang Koheri.

Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo, Gus Syaikhul Ulum Syuhadak, S.Pd.I, menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam kacamata pesantren bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah amanah untuk melayani umat (khidmah al-ummah). Ia menegaskan bahwa santri dipersiapkan untuk memimpin dengan hati dan keteladanan.

“Di pesantren, kami mengajarkan bahwa menjadi pemimpin berarti siap menjadi pelayan. Warisan dari Almagfurlah KH. Maulana Imam Syuhadak bukan hanya berupa bangunan fisik, melainkan sanad keilmuan dan semangat perjuangan. Kami mendidik santri agar memiliki kemandirian dan keteguhan prinsip, sehingga kelak ketika terjun ke masyarakat, mereka menjadi pemimpin yang tidak mudah goyah oleh kepentingan duniawi, namun kokoh dalam menjaga nilai-nilai kebenaran,” tegas Gus Syaikhul Ulum.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi haul dan doa bersama yang konsisten dijalankan sejak 1998 merupakan cara pesantren menyambungkan ruh perjuangan masa lalu dengan semangat kepemimpinan masa kini. “Kepemimpinan yang berkah adalah kepemimpinan yang tidak memutus hubungan dengan para guru dan ulama,” imbuhnya.

Komang Koheri pun mengamini hal tersebut dengan mengenang sosok Almagfurlah KH. Maulana Imam Syuhadak sebagai contoh nyata pemimpin transformatif. Perjuangan almarhum sejak tahun 1987 merupakan bukti nyata bagaimana seorang ulama mampu menjadi motor penggerak pendidikan dan kemajuan umat di Lampung Tengah.

“Almagfurlah adalah sosok pendidik yang telah memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Perjuangan beliau harus dilanjutkan oleh generasi muda saat ini untuk menjadi pemimpin yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tambah Komang.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini juga diisi dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Turut hadir dalam acara tersebut, Pengasuh Ponpes Al-Qodiri Jember KH. Umar Syaifuddin, Wali Kota Metro H. Bambang Iman Santoso, jajaran alim ulama, kyai, serta para imam manaqib se-Provinsi Lampung.

Acara ditutup dengan harapan besar agar sinergi antara ulama (pemimpin agama) dan umaro (pemerintah) terus terjalin kuat demi mewujudkan Lampung Tengah yang lebih maju dan berakhlakul karimah. (Dodi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *