PASAR & KOMODITAS
πŸ… Emas Antam: Rp 1.415.000/gr
πŸ”„ Buyback Emas: Rp 1.260.000/gr
πŸ›’οΈ Minyak Brent (Oil): $79.65/bbl (+0.45%)
πŸ’΅ USD / IDR: Rp 15.680 (-0.12%)
πŸ“ˆ IHSG: 7.420,50 (+0.38%)
πŸͺ™ Perak / Silver: Rp 16.850/gr
πŸ… Emas Antam: Rp 1.415.000/gr
πŸ”„ Buyback Emas: Rp 1.260.000/gr
πŸ›’οΈ Minyak Brent (Oil): $79.65/bbl (+0.45%)
πŸ’΅ USD / IDR: Rp 15.680 (-0.12%)
πŸ“ˆ IHSG: 7.420,50 (+0.38%)
πŸͺ™ Perak / Silver: Rp 16.850/gr
DaerahHeadlineKesehatanLampung Tengah

Cegah Stunting dan Perkawinan Anak, DPPKB Lamteng Perkuat Edukasi dan Pendampingan Keluarga

Rendra
350
×

Cegah Stunting dan Perkawinan Anak, DPPKB Lamteng Perkuat Edukasi dan Pendampingan Keluarga

Sebarkan artikel ini

Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Pemkab Lamteng) melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) terus memperkuat pembangunan keluarga berkualitas melalui upaya pencegahan stunting dan perkawinan anak.

Langkah tersebut dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, serta pendampingan langsung kepada keluarga yang membutuhkan perhatian. Pendekatan ini dinilai penting agar intervensi pembangunan dapat menyentuh masyarakat hingga tingkat kampung dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DPPKB Kabupaten Lampung Tengah, Helmiyati, S.Pd., S.E., M.M., bersama jajaran dan Camat Gunung Sugih Riza Aryansi, S.Pd., M.M., turun langsung mengunjungi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Kampung Buyut Utara, Kecamatan Gunung Sugih, Kamis (17/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penguatan pendampingan keluarga, khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, pola asuh, serta pemantauan tumbuh kembang anak.

Helmiyati menegaskan, pencegahan stunting harus dimulai sejak dini dan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Keluarga, kata dia, memiliki peran penting dalam memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, mendapatkan pelayanan kesehatan, serta tumbuh dalam lingkungan yang mendukung.

β€œPencegahan stunting harus dimulai dari keluarga. Pendampingan secara langsung penting agar kita dapat mengetahui kondisi keluarga dan memberikan edukasi maupun intervensi yang sesuai dengan kebutuhan,” ujar Helmiyati.

Menurutnya, upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, pemerintah kampung, tenaga kesehatan, kader, Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta masyarakat.

β€œPendampingan juga diarahkan kepada keluarga yang memiliki faktor risiko agar langkah pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin dan tepat sasaran,” ungkapnya.

Selain pencegahan stunting, DPPKB Lampung Tengah juga memperkuat edukasi mengenai pentingnya mencegah perkawinan anak.

Helmiyati mengatakan, anak perlu diberikan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan, tumbuh dan berkembang secara optimal, menjaga kesehatan, serta mempersiapkan masa depan dengan matang.

Menurutnya, pencegahan perkawinan anak merupakan bagian penting dari pembangunan keluarga berkualitas. Kesiapan fisik, mental, pendidikan, dan sosial ekonomi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memasuki kehidupan berkeluarga.

β€œAnak-anak harus diberikan ruang untuk belajar, tumbuh dan meraih cita-cita. Pencegahan perkawinan anak merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda dan membangun keluarga yang lebih berkualitas,” tegas Helmiyati.

Penguatan pembangunan keluarga tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah di bawah kepemimpinan Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, S.E., M.Sos.

Komitmen tersebut antara lain didorong melalui program SEKINKER GELOWING, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam menangani berbagai persoalan sosial dan pembangunan, termasuk kemiskinan serta stunting.

Dalam pelaksanaan program tersebut, I Komang Koheri menegaskan bahwa penanganan kemiskinan dan stunting tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, BAZNAS, dan masyarakat agar intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

β€œPenanganan kemiskinan ekstrem dan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dan sinergi seluruh pihak, termasuk dunia usaha, BAZNAS dan masyarakat,” ujar Komang Koheri.

Ia menambahkan, persoalan kemiskinan dan stunting berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk gizi, kesehatan, dan pendidikan anak. β€œKarena itu, penanganannya perlu dilakukan secara terpadu, terarah dan berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui penguatan edukasi, pendampingan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor, Pemkab Lampung Tengah terus mendorong agar pencegahan stunting dan perkawinan anak tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi diwujudkan melalui langkah nyata yang menyentuh keluarga secara langsung.

β€œUpaya ini kami harap dapat memperkuat kualitas keluarga sekaligus mendukung terwujudnya generasi Lampung Tengah yang sehat, berpendidikan, mandiri dan memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Rendra)

 

HAK CIPTA DILINDUNGI
Dilarang mengutip atau menyalin artikel tanpa mencantumkan link sumber resmi Karya Nasional.

2