Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Pemkab Lamteng) mengajak masyarakat menjadikan momentum mengenang tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang selama ini dikenal luas sebagai G30S/PKI, sebagai sarana belajar dari perjalanan sejarah bangsa sekaligus memperkuat persatuan, kerukunan, dan semangat kebangsaan.
Peristiwa yang berlangsung pada penghujung September hingga 1 Oktober 1965 tersebut menjadi salah satu titik penting sekaligus kelam dalam perjalanan sejarah Indonesia. Dalam rangkaian peristiwa itu, sejumlah perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban.
Pemerintah kemudian menetapkan tujuh korban sebagai Pahlawan Revolusi. Peristiwa tersebut selanjutnya berkembang menjadi rangkaian konflik politik dan sosial yang membawa dampak panjang bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
Sejarah G30S 1965 juga tidak dapat dilepaskan dari situasi politik Indonesia yang saat itu berada dalam ketegangan tinggi. Karena itu, mengenang peristiwa tersebut bukan sekadar mengulang narasi masa lalu, melainkan menjadi kesempatan bagi generasi sekarang untuk memahami sejarah secara lebih utuh, kritis, dan bertanggung jawab.
Bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah, nilai penting yang dapat diambil dari sejarah tersebut adalah perlunya menjaga persatuan serta mencegah kembali munculnya konflik yang dapat memecah kehidupan masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, S.E., M.Sos., menegaskan bahwa sejarah harus dipelajari dan dikenang dengan bijaksana.
βKita mengenang sejarah bukan untuk memperbesar perbedaan, tetapi untuk mengambil pelajaran. Peristiwa masa lalu harus menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya persatuan, kerukunan, kemanusiaan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,β ujar I Komang Koheri, Rabu (30/9/2026).
Menurut Komang Koheri, masyarakat Indonesia memiliki latar belakang, pandangan, dan pengalaman yang beragam. Namun, seluruh perbedaan tersebut harus ditempatkan dalam semangat kebangsaan dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
βJangan sampai sejarah hanya menjadi cerita yang kita dengar setiap tahun. Jadikan sejarah sebagai pelajaran untuk memperkuat persaudaraan. Kita boleh berbeda, tetapi kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,β ujar Plt. Bupati Lampung Tengah.
Ia juga mengajak generasi muda Lampung Tengah untuk tidak melupakan sejarah bangsanya. Pemahaman terhadap sejarah dinilai penting agar generasi penerus tidak hanya mengetahui tanggal dan peristiwa, tetapi juga memahami dampak kemanusiaan, sosial, dan politik yang ditimbulkannya.
Menurutnya, penghormatan terhadap para korban dan mereka yang terdampak oleh rangkaian tragedi 1965 dapat diwujudkan dengan membangun kehidupan masyarakat yang lebih damai, saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
βJasa dan pengorbanan para pendahulu harus kita hormati dengan cara menjaga Indonesia. Mari kita rawat persatuan, kita jaga kerukunan, dan kita isi kemerdekaan dengan kerja nyata untuk masyarakat,β pesan Komang Koheri.
Pemkab Lampung Tengah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga suasana daerah tetap aman, damai, dan kondusif. Gotong royong, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Bagi generasi hari ini, mengenang tragedi G30S 1965 bukan berarti terus terjebak dalam pertentangan masa lalu. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi cermin untuk memahami betapa mahalnya harga sebuah perpecahan dan betapa pentingnya menjaga persatuan bangsa.
Sejarah mencatat bahwa rangkaian peristiwa 1965 tidak berhenti pada peristiwa G30S. Setelahnya terjadi penangkapan, konflik, kekerasan, dan berbagai dampak sosial-politik yang dirasakan masyarakat dalam skala luas.
Karena itu, pembelajaran sejarah perlu dilakukan secara menyeluruh dengan tetap menghormati korban dan memahami beragam perspektif sejarah.
Pesan yang dapat diwariskan kepada generasi penerus adalah bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Pancasila, konstitusi, persatuan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan harus menjadi pijakan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Mengenang sejarah, menghormati para korban, mengambil pelajaran dari masa lalu, dan memperkuat persatuan untuk menjaga masa depan Indonesia”. (Rendra)
