Persoalan siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah tidak cukup diselesaikan hanya dengan pemberian sanksi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lampung Tengah mendorong sekolah mengedepankan pembinaan, pendekatan edukatif, serta pendampingan agar siswa memahami kesalahan dan mampu memperbaiki perilakunya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Tengah, Dr. Nur Rohman, S.E., M.Sos.I., menegaskan bahwa penanganan siswa yang merokok harus dilakukan secara terukur dan manusiawi. Sekolah, khususnya guru Bimbingan dan Konseling (BK), perlu melihat persoalan tersebut bukan hanya sebagai bentuk pelanggaran tata tertib, tetapi juga sebagai persoalan perilaku yang membutuhkan pendampingan.
Menurut Nur Rohman, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan informasi mengenai siswa yang diduga merokok benar dan memiliki dasar yang jelas. Sekolah tidak boleh terburu-buru memberikan penilaian maupun sanksi tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
βBukan karena takut dihukum, tapi belajar bertanggung jawab dan mau memperbaiki diri,β tegas Nur Rohman, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, setiap kejadian juga perlu dicatat secara lengkap, mulai dari waktu, tempat hingga kronologi. Catatan tersebut menjadi dasar bagi sekolah dalam menentukan langkah pembinaan dan tindak lanjut secara objektif.
Dalam prosesnya, guru BK diminta mengedepankan komunikasi yang tenang. Siswa sebaiknya tidak dipermalukan atau ditegur secara terbuka di hadapan teman-temannya. Sebaliknya, siswa perlu diajak berbicara secara pribadi dalam suasana yang aman dan nyaman agar dapat menjelaskan kondisi yang sebenarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena tujuan penanganan bukan sekadar memberikan efek takut terhadap hukuman. Lebih dari itu, siswa diharapkan mampu memahami penyebab dan dampak dari perilakunya, menyadari konsekuensi tindakannya, serta memiliki kemauan untuk berubah.
Nur Rohman menekankan bahwa guru BK memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Guru tidak hanya berperan ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu siswa menemukan jalan untuk memperbaiki diri.
Dengan pendekatan pembinaan, Disdikbud Lampung Tengah berharap persoalan siswa merokok dapat ditangani secara lebih proporsional dan tidak berhenti pada sanksi semata. Penanganan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter, sehingga siswa belajar bertanggung jawab atas pilihan dan perilakunya.
βPenanganan harus mampu memberikan pemahaman dan mendorong perubahan perilaku. Sanksi bukan satu-satunya jalan,β demikian penekanan Disdikbud Lampung Tengah.
Langkah tersebut diharapkan turut memperkuat terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat, aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang siswa tanpa mengabaikan aturan dan kedisiplinan di sekolah. (R)
