Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah terus mendorong perubahan paradigma pelayanan Keluarga Berencana (KB), dari sekadar mengejar capaian angka menjadi pelayanan yang lebih berkualitas, humanis, dan berorientasi pada kesehatan serta kesejahteraan keluarga.
Momentum Hari Kontrasepsi Sedunia (World Contraception Day) pada 7β8 September 2026 dimanfaatkan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Lampung Tengah untuk memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PPKB Lampung Tengah, Helmiyati, S.Pd., S.E., M.M., menegaskan bahwa pelayanan KB harus menempatkan masyarakat sebagai subjek utama.
Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar, pendampingan yang baik, serta kebebasan memilih metode kontrasepsi sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasangan.

βPelayanan bukan hanya tentang cepat, tetapi juga tentang ramah dan penuh empati,β ujar Helmiyati, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, keberhasilan pelayanan KB tidak semata-mata dilihat dari jumlah peserta atau capaian kontrasepsi. Lebih dari itu, kualitas pelayanan harus mampu memastikan masyarakat memahami manfaat, pilihan, serta konsekuensi dari metode kontrasepsi yang digunakan.
βKita ingin pelayanan KB benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga. Masyarakat tidak hanya datang mendapatkan pelayanan, tetapi juga mendapatkan edukasi dan pendampingan,β jelasnya.
Penguatan pelayanan tersebut sejalan dengan komitmen Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, S.E., M.Sos., dalam menjaga kualitas pelayanan publik dan memastikan program pemerintah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam konteks KB, pendekatan tersebut diterjemahkan melalui pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan keluarga, sekaligus mendorong peningkatan kualitas kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga.
Helmiyati menambahkan, keberhasilan program KB membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, penyuluh KB, kader, fasilitas pelayanan kesehatan hingga masyarakat.
Dengan kolaborasi tersebut, lanjutnya, program KB diharapkan tidak berhenti pada pencapaian target, tetapi mampu membangun keluarga yang sehat, mandiri, harmonis, dan memiliki ketahanan yang lebih kuat.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan KB bukan hanya tentang berapa banyak angka yang dicapai, tetapi seberapa besar manfaat pelayanan tersebut mampu meningkatkan kualitas kehidupan keluarga di Lampung Tengah,” pungkas Helmiyati.
“Lampung Tengah Unggul, Adil, dan Sejahtera Menuju Indonesia Emas 2045”. (R)
