banner 325x300
Pesisir Barat

Pembangunan Pariwisata Nihil, Anggaran Operasional Disporaparekraf Pesisir Barat Justru Bengkak

312
×

Pembangunan Pariwisata Nihil, Anggaran Operasional Disporaparekraf Pesisir Barat Justru Bengkak

Sebarkan artikel ini

KARYANASIONAL – Potret miris ketimpangan kepentingan antara prioritas pembangunan untuk rakyat atau hanya mendahulukan kepentingan pejabat, menjadi pertanyaan serius bagi masyarakat ketika menelusuri jejak penggunaan anggaran pada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Kabupaten Pesisir Barat tahun 2026.

Tak ayal, warga langsung terkejut ketika melihat rencana anggaran yang dilaksanakan Disporaparekraf Pesibar, yang disinyalir hanya mementingkan kebutuhan internal pegawai di tengah derasnya efisiensi dan minimnya pembangunan di wilayah barat Lampung ini.

Dari penelusuran yang dilakukan pada Rabu, 12 Agustus 2026, melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, diketahui sekitar lebih dari Rp1,5 miliar diduga hanya dihabiskan untuk belanja operasional saja.

Sementara itu, pada tahun ini tak satupun terlihat adanya pembangunan infrastruktur yang dilakukan Disporaparekraf, baik di sisi pariwisata, pemuda, olahraga maupun ekonomi kreatif.

Dari penelusuran tersebut diketahui, anggaran senilai lebih dari Rp1,5 miliar tersebut dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan operasional saja, mulai dari perjalanan dinas, makan minum ATK, hingga honor kegiatan semata.

Rinciannya, Perjalanan Dinas diketahui menghabiskan anggaran mencapai sekitar Rp295 juta, terdiri dari perjalanan dalam dalam dan luar kota.

Kemudian Belanja ATK dan Keperluan Perkantoran saja mencapai Rp266 juta, terdiri dari alat tulis, kertas, cetak, benda pos dan kebutuhan lainnya.

Selanjutnya terdapat Makan dan Minum sebesar Rp190 juta yang habis untuk kegiatan seremonial, lalu ada Anggaran Kendaraan Dinas mencapai Rp198 juta, yang terdiri dari sewa kendaraan, servis dan operasionalnya.

Ada pula Jasa Transaksi Keuangan sebesar Rp162,4 juta, yang tak jelas peruntukannya.

Berikutnya Honor Kegiatan menghabiskan anggaraan sebesar Rp112,4 juta , Jasa Konsultasi mencapai Rp140 juta, hingga Belanja Pakaian dan Cendera Mata sebesar Rp63,7 juta, lalu ada juga Belanja Sewa sebesar Rp42,6 juta yang terdiri dari sewa hotel dan peralatan umum.

Kemudian Belanja Kesekretariatan sebesar Rp35,52 juta, yang mencakup listrik, internet dan kebutuhan lainnya, serta Sewa Bangunan sebesar Rp16,5 juta, untuk sewa bangunan atau gedung.

Jika seluruh pos tersebut dijumlahkan, totalnya mencengangkan yakni mencapai sekitar Rp1,522 miliar.

Angka ini tentu bukan angka kecil. Terlebih bagi daerah yang masih berhadapan dengan berbagai persoalan pembangunan dan membutuhkan keberpihakan anggaran yang nyata terhadap kepentingan masyarakat.

Kondisi ini mencerminkan nir empati secara terang-terangan dan mencederai hati masyarakat yang saat ini sedang “puasa pembangunan” yang entah kapan akan berakhir.

Pertanyaannya kemudian sederhana: untuk siapa anggaran sebesar itu disiapkan?

Sebab, jika sebagian besar anggaran hanya berputar untuk perjalanan dinas, kebutuhan perkantoran, makan dan minum, kendaraan, jasa, honor hingga berbagai kebutuhan internal lainnya, masyarakat berhak mempertanyakan sejauh mana manfaat langsung yang dapat mereka rasakan.

Terlebih, anggaran operasional yang direncanakan Disporaparekraf tahun ini disinyalir hanya habis tak menentu, tanpa adanya langkah konkret yang benar-benar dibutuhkan warga Pesisir Barat.

Masyarakat tentu tidak sedang meminta seluruh anggaran pemerintah dihapuskan untuk kemudian dibiarkan birokrasi bekerja tanpa biaya. Namun, publik patut mempertanyakan keseimbangan antara biaya menjalankan birokrasi dengan hasil yang diberikan kepada masyarakat.

Sebab, Disporaparekraf memiliki empat sektor strategis sekaligus, yakni pemuda, olahraga, pariwisata dan ekonomi kreatif. Keempat sektor tersebut seharusnya bukan hanya menjadi nama panjang dalam struktur organisasi, tetapi harus diwujudkan dalam program yang mampu memberikan dampak nyata.

 

Pewarta: Rikki 

Editor: Wahyu 

 

2