Lain-Lain

Lapor Pak Gubernur, Gegara Akses Jalan Warga Tandu Kades Bandar Dalam Karena Sakit Serius 

Avatar
115
×

Lapor Pak Gubernur, Gegara Akses Jalan Warga Tandu Kades Bandar Dalam Karena Sakit Serius 

Sebarkan artikel ini

Screenshot_2025-04-19-10-29-26-16_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

KARYANASIONAL – Di tengah kabar keberhasilan pembangunan nasional, ada kisah pahit dari bagian barat Lampung. Sebuah vidio amatir yang memperlihatkan warga Desa Bandar Dalam, Kecamatan Way Haru, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menandu Kepala Desanya yang sakit melintasi medan penuh rintangan selama enam jam hanya untuk mendapatkan perawatan medis.

Rudi Meilano, Kepala Desa Pekon Bandar Dalam, menghadapi sakit serius. Tapi jalan yang rusak parah membuat puluhan warga harus menggotongnya dengan tandu bambu dan kayu.

Mereka berjalan kaki sejauh 15 kilometer, melewati hutan, sungai, lumpur, dan garis pantai yang rawan ombak besar.

Perjalanan ini bukan hanya soal jarak. Ini adalah gambaran nyata dari keterisolasian yang selama ini cuma jadi laporan kosong.

Way Haru dan tiga desa lainnya seperti Way Tias, Siring Gading, dan Bandar Dalam adalah rumah dari ribuan warga. Mereka hidup tanpa jalan yang layak, listrik cukup dan sinyal komunikasi.

Masalah utamanya adalah status kawasan ini masuk Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Status ini jadi penghalang utama pembangunan infrastruktur, meski pemerintah daerah sudah berkali-kali meminta dan berjuang.

“Kalau bukan karena gotong royong warga, mungkin nyawa pak kades tak akan selamat,” kata salah satu warga yang enggan disebutkan namanya saat bergantian menandu, Jumat (18/4/2025).

Ini bukan kejadian pertama warga Way Haru berjuang dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya, seorang ibu hamil juga pernah di tandu ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis. Kemudian, anak pelajar harus berjalan puluhan kilometer untuk menuju sekolah. Semua ini terjadi di tengah janji dan pembangunan jalan tol serta proyek nasional.

Sementara para pejabat sibuk merayakan statistik dan citra, warga Way Haru cuma berharap satu hal sederhana. Mereka menginginkan jalan yang bisa dilalui kendaraan. Jalan yang memberi akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan harapan masa depan.

“Way Haru mungkin tersembunyi di peta. Tapi suara mereka kini terdengar di media sosial. Apakah suara ini akan didengar? Atau akan hilang begitu saja, tanpa adanya tindakan nyata,” tandasnya.

Pewarta : Rikki 

Editor : Wahyu