KARYA NASIONAL – Upaya melestarikan dan memperkaya budaya Nusantara terus digaungkan dari Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng). Salah satunya diwujudkan melalui pagelaran wayang kulit di Kampung Varia Agung Mataram, Kecamatan Seputih Mataram, yang menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga keberadaan seni tradisional sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Sirnaning Angkoro Murko” yang menghadirkan dalang Ki Bambang Mudo Carito digelar Minggu malam, 9 Agustus 2026, di halaman Balai Kampung Varia Agung Mataram. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan HUT Kampung Varia Agung Mataram ke-63.
Pertunjukan seni tradisional tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat. Warga hadir dan berbaur menyaksikan kesenian wayang kulit yang tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarat dengan nilai filosofi, pendidikan, tuntunan moral dan pesan kehidupan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, S.E., M.Sos., Camat Seputih Mataram Fran Daromes Alida, S.E., Camat Terbanggi Besar, jajaran Forkopimcam Seputih Mataram, para kepala kampung se-Kecamatan Seputih Mataram, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta masyarakat Kampung Varia Agung Mataram.
Kehadiran Plt. Bupati Lamteng menjadi bentuk perhatian dan dukungan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah terhadap pelestarian seni dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Budaya Harus Terus Hidup
Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri mengatakan, keberadaan budaya tradisional harus terus dijaga agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Menurutnya, budaya merupakan bagian penting dari identitas bangsa sekaligus kekayaan yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.
“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Kampung Varia Agung Mataram yang terus menjaga dan melestarikan budaya. Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang memiliki nilai filosofi, pendidikan dan pesan moral bagi kehidupan,” ujar I Komang Koheri.
Ia menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan keterlibatan masyarakat, pemerintah, pelaku seni, tokoh budaya dan terutama generasi muda agar berbagai kesenian tradisional tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Menurutnya, Lampung Tengah memiliki kekayaan masyarakat dan tradisi yang beragam. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang dapat memperkaya khazanah budaya Lampung sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
“Kita ingin budaya yang ada di Lampung Tengah terus hidup dan berkembang. Dari Lampung Tengah untuk Lampung dan untuk Indonesia, kita bersama-sama menjaga, melestarikan dan memperkaya budaya Nusantara,” tegasnya.
Wayang Kulit Mengandung Nilai Kehidupan
I Komang Koheri juga memberikan perhatian terhadap pesan yang terkandung dalam lakon “Sirnaning Angkoro Murko”. Menurutnya, cerita dalam pewayangan memiliki nilai yang relevan untuk kehidupan masyarakat, termasuk pesan tentang pentingnya mengendalikan sifat buruk dalam diri manusia. Lakon tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran perjuangan manusia dalam mengendalikan sifat angkara murka, keserakahan, amarah dan perilaku buruk yang dapat merusak kehidupan bersama.
“Dalam setiap lakon wayang terdapat pesan tentang kehidupan. Ada pelajaran mengenai kebaikan dan keburukan, tanggung jawab, kepemimpinan, persaudaraan dan bagaimana manusia mampu mengendalikan dirinya. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk terus kita tanamkan kepada generasi muda,” katanya.
Karena itu, pagelaran wayang kulit dinilai bukan sekadar hiburan rakyat. Lebih dari itu, pertunjukan tersebut menjadi media pendidikan budaya yang dapat memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
Dukungan Pemkab Lamteng untuk Budaya Nusantara
Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah di bawah kepemimpinan Plt. Bupati I Komang Koheri terus mendorong masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan berbagai bentuk seni serta budaya yang hidup di daerah. Dukungan terhadap kegiatan budaya di tingkat kampung diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.
Menurut I Komang Koheri, kemajuan teknologi dan modernisasi tidak boleh membuat generasi muda meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, kemajuan tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
“Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya dari luar, tetapi tidak mengenal budaya sendiri. Kita harus bangga dengan budaya Nusantara dan terus mengenalkannya kepada generasi muda,” ujarnya.
Orang nomor satu di Bumi Beguai Jejamo Wawai itu juga mengajak masyarakat Lampung Tengah untuk terus menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan sebagai sarana memperkuat persatuan, gotong royong dan kebersamaan.
Pagelaran wayang kulit di Kampung Varia Agung Mataram menjadi salah satu contoh bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari tingkat kampung. Dari ruang-ruang budaya masyarakat, warisan leluhur dapat terus hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Semangat tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya Nusantara bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Dari Lampung Tengah untuk Lampung dan Nasional, merawat budaya, memperkuat jati diri bangsa, dan memperkaya budaya Nusantara, demi mewujudkan Lampung Tengah Unggul, Adil, dan Sejahtera Menuju Indonesia Emas 2045. (R)












